MENGUNGKAP PENAFSIRAN AL-QUR’AN VERSI SYIAH Kajian Tafsir Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an Karya at- Tabataba’i

  • fiddian Khairudin Universitas Islam Indragiri
  • Amaruddin Amaruddin Universitas Islam Indragiri

Abstract

Al-Mizan adalah suatu kitab tafsir yang sangat populer di kalangan para mufasir klasik maupun kontemporer. Adalah salah satu karya terbesar dari sekian banyak karya-karya yang ditelurkan oleh at-Tabataba’i di tempat tinggalnya Qum, sang alim pun mencurahkan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan kitab al-Mizan fi Tafsir al- Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai pandangan hidup, al-Qur’an mutlak harus bisa di pahami, sebab, tanpa al-
Qur’an itu bisa di pahami mustahil umat Islam akan berhasil mengamalkan pesan-pesan yang dikandungnya secara utuh dan benar. Begitu juga dengan at-Tabataba’i, beliau berusaha memberikan pemaparan dalam tafsirnya meskipun terkadang berbeda dengan muafssir laiinya. Sebagai contoh at-Tabataba’i mengatakan tidak satupun di antara ayat-ayat al-Qur’an yang maknanya tak bisa di ketahui. Pandangan at-Thabataba’i mengenai dapat di pahaminya ayat-ayat al-Qur’an itu menyangkut keseluruhan ayat-ayat al-Qur’an, tidak kecuali terhadap ayat-ayat yang selama ini dinilai oleh kalangan tafsir sebagai ayat-ayat mutasyabihat. Contoh lain, mufasir yang menilai huruf muqatta’ah termasuk kategori ayat-ayat mutasyabihat, al-Tabataba’i tidak beranggapan demikian. Baginya, huruf huruf muqatta’ah merupakan kode khusus antara Allah dan rasulnya di mana pengetahuan manusia tidak sampai kepadanya kecuali sekedar menduga-duga. Dalam kasus ini sikap at-Tabataba’i menjadi kontradiktif dengan pandangannya semula bahwa semua ayat-ayat al-Qur’an bisa di pahami maksudnya. Sebagai seorang ulama Syi’ah terkemuka, pemikirannya memang sangat diwarnai ideology kesyi’ahan. Hal ini telihat jelas dalam berbagai kajian yang di lakukannya sebagaimana tertuang dalam tafsir al-Mizan ini. Tampak sekali bahwa kitabnya ini sangat memperlihatkan keteguhan al-Thabataba’i berpegang pada mazhab Shi’ah, bahkan kelihatan sekali berupaya “mengkampanyekan” mazhab Shi’ah sendiri, berkenaan dengan pandangan-pandangan ideologis keshi’ahan mereka, seperti nikah mut’ah, kepemimpinan/imamah dan lainya.

Published
2018-10-30
Section
Articles