Tafsir Ahkam dan Sejarah Perkembangannya

  • Syafril Syafril universitas Islam Indragiri

Abstract

Tujuan utama diturunkannya al-Qur’an adalah untuk memberikan hidayah atau petunjuk kepada umat manusia. Hidayah al-Qur’an, diorientasikan kepada tiga tujuan pokoknya, yaitu akidah, ibadah dan akhlak. Jika dibandingkan dengan persoalan lainnya, al-Qur’an memberikan perhatian yang cukup besar terhadap tatanan hukum yang mengatur dan menciptakan kemaslahatan hidup manusia. Indikator ini dapat dilihat dari terma yang digunakan al-Qur’an ketika menjuluki dirinya dengan “hukman ‘arabiyyan” sebagai kitab aturan yang berbahasa arab. Ada enam poin yang mengindikasikan keseriusan al-Qur’an dalam memperhatikan masalah ini. Pertama, al-Qur’an menamai dirinya dengan hukum. Kedua, ayat yang terpanjang al-Qur’an berbicara dalam konteks hukum. Ketiga, ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara tentang perintah dan larangan berjumlah puluhan bahkan ratusan. Keempat, surat terpanjang, terutama surat Madaniyah memuat persoalan hukum. Kelima, dalam al-Qur’an terdapat sejumlah ayat hukum. Keenam, al-Qur’an mengecam orang yang mengabaikan hukum. Embrio tafsir ahkam pada dasarnya muncul bersamaan dengan penafsiran ayat-ayat al-Qur’an secara umum dan tafsir ahkam merupakan bagian dari rangkaian keseluruhan tafsir al-Qur’an. Perhatian ulama terhadap penafsiran ayat ahkam pada akhirnya melahirkan berbagai karya tafsir ahkam dalam sejarah penafsiran al-Qur’an, dari klasik hingga modern/kontemporer.

Published
2022-06-20
Section
Articles